Saturday, November 18, 2017

Identifikasi dan Pemetaan Patotipe Penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB) Pada Tanaman Padi

0

patotipedpn

Identifikasi dan Pemetaan Patotipe Penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB) Pada Tanaman Padi

 

 

Pengaruh Aplikasi Beberapa Agens Hayati dan Pestisida Nabati Terhadap Perkembangan Populasi Penggerek Tongkol dan Penyakit Hawar Daun Jagung

0

ahdpn  Pengaruh  Aplikasi  Beberapa  Agens  Hayati  dan Pestisida  Nabati  Terhadap  Perkembangan   Populasi Penggerek  Tongkol dan Penyakit Hawar Daun Jagung

 

 

Pengembangan Simulasi Model Peramalan Wereng Batang Coklat

0

 

odidpn  Pengembangan Simulasi Model Peramalan Wereng Batang Coklat

 

 

 

PENGARUH INFESTASI ATAU SERANGAN OPT TERHADAP KEHILANGAN HASIL PADA BEBERAPA VARIETAS PADI

0

 

kelhasdpnOrganisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) adalah merupakan salah satu penghambat dalam budidaya tanaman padi, dengan jumlah populasi dan tingkat serangan yang terjadi setiap saat, dapat mengganggu stabilitas ketahanan pangan di Indonesia, pada akhir-akhir ini yaitu tahun 2010 dan awal 2011 banyak dilaporkan terjadi serangan OPT yang cukup luas.

Screening Insektisida Untuk Pengendalian Hama Utama Pada Tanaman Kedelai

0

 

efikasi

Kebutuhan komoditas kedelai saat ini semakin meningkat, pemerintah  pada tahun 2011 menetapkan target produksi kedelai sebesar 1,1 juta ton. Lebih tinggi dari tahun 2010 sebesar 910.000 ribu ton, sementara itu angka konsumsi kedele mencapai 1,6 juta ton sehingga pemerintah harus mengimpor kedele sebesar 500 ribu ton (BPS). Untuk memenuhi kebutuhan tersebut perlu dilakukan upaya peningkatan produksi.

 

Pada tahun 2010 Pemerintah melalui Badan Litbang   telah melakukan pengembangan dan pendekatan pengelolaan tanaman terpadu yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas kedelai dan efesiensi input produksi.

 

Budidaya tanaman kedelai khususnya di Jawa Tengah, yang diupayakan di sawah merupakan tanaman penyelang setelah tanaman utama dipanen (padi), sehingga waktu dan lokasi untuk usaha tani kedelai sangat terbatas saat ini. Kedelai dilahan sawah umumnya diusahakan setelah panen padi yaitu pada April – Juni pada lahan semi irigasi, apabila air masih memungkinkan pada Juli – Oktober (pada lahan irigasi, setelah panen padi gadu).

 

Peningkatan produksi kedelai kering di luar Jawa saat ini mencapai 22,43 ribu ton angka tersebut dicapai karena terjadinya perluasan areal panen sebesar 4,99 ribu ha dan peningkatan produktivitas sebesar 0,29 kwintal per ha, sedangkan di Jawa angka produksi kedele kering hanya 3,46 ribu ton. Peningkatan produksi kedelai kering khususnya di pulau Jawa masih bisa dicapai salah satunya adalah adalah dengan mengoptimalkan cara budidaya kedelai termasuk pengendalian terhadap OPT utama kedele.

 

efikasi3

Pada umumnya para petani untuk melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit masih mengandalkan penggunaan pestisida kimia yang dapat diperoleh dengan mudah di pasaran, meskipun dalam prakteknya tidak sedikit yang salah sasaran didalam cara penggunaannya, seperti tidak tepat pemilihan jenis pestisida yang digunakan, cara aplikasi, dosis pemakaian, waktu pengendalian serta sasaran OPT.

Sejak digulirkannya kebijakan deregulasi di bidang pendaftaran pestisida pada tahun 2001, dimana jumlah dan jenis pestisida yang beredar di pasaran semakin meningkat, sampai tahun 2007 jumlah pestisida yang terdaftar untuk pertanian mencapai 1.670 formulasi sedangkan pestisida terdaftar untuk tanaman pangan sebanyak 706 formulasi, yang terdiri dari pestisida untuk padi sebanyak 356 formulasi, pestisida untuk jagung sebanyak 83 formulasi, pestisida untuk kedelai sebanyak 251 formulasi dan pestisida untuk kacang tanah sebanyak 36 formulasi.

 

Disatu sisi kebijakan tersebut ditujukan untuk memberikan kemudahan kepada petani untuk mendapatkan pestisida dengan beragam formulasi sesuai kebutuhannya dengan harga yang terjangkau. Namun di sisi lain, hal tersebut juga telah mendorong petani untuk menggunakan pestisida secara berlebihan dan tidak efisien.

 

efikasi4

Untuk membantu petani agar mengetahui pestisida yang efektif dan relatif aman bagi manusia serta lingkungan khususnya untuk tanaman kedele, Balai Besar Peramalan OPT Jatisari pada Tahun Anggaran 2011 akan mengadakan kegiatan lapang Screening Insektisida Untuk Pengendalian Hama Utama Pada Tanaman Kedele dengan tujuan dapat diketahui jenis pestisida yang efektif, efisien, aman terhadap penggunaan dan lingkungan serta dapat mengendalikan OPT sasaran.

Laporan akhir kajian Screening Insektisida Untuk Pengendalian Hama Utama Pada Tanaman Kedelai dapat didownload disini!

 

catatan :permintaan password dengan mengirimkan email ke

bbpopt@gmail.com cc kanggoa@yahoo.com

dengan mencantumkan nama, instansi dan keperluan dokumen

 

 

 

 

 

Dinamika populasi dan pengendalian Kepik hitam pada tanaman padi di provinsi Sulawesi Selatan

0

kepik nangringHama kepik hitam (Paraeucosmetus pallicornis) hingga kini belum banyak ditangani sehingga informasinya sulit dicari di perpustakaan. Informasi dari internet awalnya bersifat negatif yaitu kesalahan persepsi, sedangkan dari lembaga penelitian maupun praktisi lapangan juga belum benar sehingga perlu dilakukan studi dasar untuk sampai kepada upaya pengendalian di lapangan.

Hama Kepik hitam dapat dikategorikan sebagai hama baru di indonesia, karena pertama kali ditemukan pada tahun 2005 di Desa Toraut, Dumoga-Sulawesi Utara. Hama ini dikenal oleh petani dengan nama  “semut hitam”. Karena bentuk, ukuran, dan pergerakannya seperti semut hitam (Sembel, 1989).

 

 

 

 

 
Rekepik gejalaferensi diperoleh dari para pakar di Lembaga Penelitian, Perguruan Tinggi, Praktisi Perlindungan Tanaman, Prof. Dr. Ir. Aunu Rauf, M.Sc. (Guru besar IPB dan Ketua I Komisi Perlindungan Tanaman Indonesia) menyebutkan bahwa nama kepik hitam di Sulawesi adalah Paraeucosmetus pallicornis (Dallas). Hal tersebut didasarkan atas hasil pemeriksaan terhadap imago yang dikoleksi dari persawahan di Desa Popontolen dan Matani, Kecamatan Tumpaan, Kabupaten Minahasa Selatan dalam Laporan Perjalanan Dinas ke Provinsi Sulawesi Utara pada hari Kamis dan Jumat tanggal 4-5 Desember 2008. Menurut Kalangi (1986), kerapatan populasi hama kepik hitam dilaporkan mencapai 76 ekor per ayunan jaring. Sembel (1989) menyebutnya sebagai Paraecosmetus sp. Nama tersebut berdasarkan hasil identifikasi Dr. Scuder dari University of British Colombia, Vancauver, Kanada.  

 

 

 

 

 

 

 

kepik bulir3Rauf, (2008) menyatakan penyebaran kepik hitam semakin meluas dan dikhawatirkan dapat menimbulkan masalah yang lebih besar di masa mendatang. Oleh karena itu pengaturan pola tanam merupakan prioritas pertama yang perlu mendapat perhatian dalam penanganan hama ini.  Disamping itu agens hayati yang berupa patogen serangga (Beauveria, Metarrhizium) perlu dikembangkan di tingkat kelompok/hamparan.
Dinamika Populasi dan Pengendalian Kepik hitam pada Tanaman Padi di Provinsi Sulawesi Selatan, Tujuan kajian ini adalah untuk Mempelajari pola umum perkembangan populasi dan teknologi pengendalian kepik hitam melalui pengamatan lapangan dan laboratorium. Sasaran kajian ini adalah 1) Terlaksananya pengamatan lapangan di 18 hamparan, 2)Tersedianya informasi tentang pengendalian hama kepik hitam, 3) Tersedianya informasi tentang bioekologi hama kepik hitam.

.

 

 

 

 

 

 

 

kepik awetanKajian dilaksanakan di wilayah kerja Instalasi Pengamatan Peramalan dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (IP3OPT) Pinrang. Provinsi Sulawesi Selatan bulan April – Desember 2011. Metode kegiatan adalah pengamatan Lapang Dinamika Populasi dan Semilaboratorium, yaitu meliputi Rearing, Siklus Hidup, Eksplorasi Entomopatogen, Uji pengendalian nabati, patogen serangga dan Kimia, Pembuatan Koleksi Spesimen.

Hasil Pengamatan Lapangan Dinamika populasi adalah Terjadi dua puncak populasi kepik hitam yaitu pada umur tanaman 4 MST (0,23 ekor/10 rumpun) dan 11 Mst (0,65 ekor/10 rumpun. kegiatan laboratorium:  Telur berukuran panjang 1 mm dan menetas setelah 4-6 hari. Nimfa berbentuk ramping terdiri dari 5 instar dan lama perkembangan nimfa berkisar 14-21 hari. Dewasa berukuran panjang 7-7,5 mm dan lama hidup dewasa 6-12 hari. pengambilan sampel untuk rearing dibawa menggunakan pot yang diisi tanaman dan diberi kassa sedangkan kepik yang terserang jamur entomopatogen ditumbuhkan di media PSA dan diidentifikasi untuk kegiatan eksplorasi. Uji pengendalian pestisida nabati yang tertinggi terdapat  pada pengamatan 192 jam adalah ekstrak daun mimba. Uji pengendalian Jamur patogen Serangga yang tertinggi terdapat  pada pengamatan 192 jam adalah Beauveria bassiana. Uji pengendalian Pestisida Kimia yang tertinggi terdapat Pada pengamatan ke-1 (24 jam) adalah pada perlakuan klorantraniliprol-tiametoksam dengan semua dosis yaitu 100%. Tersedianya koleksi serangga kepik hitam untuk identifikasi  serangga di Balai Besar  peramalan OPT.

Laporan Kajian Dinamika populasi dan pengendalian Kepik hitam pada tanaman padi di provinsi Sulawesidapat didownload disini!

 

 

catatan :permintaan password dengan mengirimkan email ke

 

bbpopt@gmail.com cc kanggoa@yahoo.com

 

dengan mencantumkan nama, instansi dan keperluan dokumen

 

 

.

 

 

Identifikasi faktor – faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan ulat grayak pada tanaman padi

0

podoptera mauritia

Salah satu hambatan produktivitas pada lahan sawah irigasi adalah serangan hama dan penyakit utama. Serangan hama utama seperti penggerek batang, wereng, dan tikus sering menyebabkan kerugian secara ekonomi. Salah satu spesies hama padi potensial yang sering mengalami eksplosi adalah ulat grayak. Serangannya yang tiba-tiba dalam jumlah besar dapat menggagalkan hasil panen. Hama potensial seperti ulat grayak, Mythimna separata (Lepidoptera, Noctuidae) yang serangannya mendadak dan dalam jumlah besar, juga sering menyebabkan puso ( Kartohardjono, A. dan Arifin, M. 2004).  Luas serangan ulat gayak pada tahun 1990 mencapai areal 20.890 ha (Direktorat Bina Perlintan, 1994).

Ulat grayak dikenal dengan  nama latin Leucania spp dan Spodoptera spp.  Ulat  “grayak” ini menyerang tanaman padi pada semua stadia. Serangan terjadi pada malam hari  dan siang harinya, larva ulat “grayak” bersembunyi pada pangkal tanaman, dalam tanah atau di tempat-tempat yang tersembunyi.(Siti Nurjanah, 2010).

.

.

.

.

 

 

spodoptera exempta

Pada tanaman yang telah membentuk malai, ulat “grayak” kadang-kadang memotong tangkai malai, bahkan ulat “grayak” ini juga menyerang padi yang sudah mulai menguning . Batang padi yang mulai menguning itu membusuk dan mati yang akhirnya menyebabkan kegagalan panen.

Serangga ini didapatkan pada pertanaman padi. Walaupun demikian, serangga ini juga menyerang jagung, tebu, sayuran crucifera dan spesies Graminae. Ulat yang kecil makan daun-daun padi yang berumur muda, yang untuk pertama kali dengan menggigit permukaan daun. Setelah ulat-ulat tumbuh besar, maka mereka menjadi sangat rakus dan menghancurkan seluruh tanaman dalam waktu yang relative singkat, sebelum berpindah ke daerah lain. (Edo el Frado. 2010)

.

.

.

.

 

 

 gejala grayak

Pada tahun 1980 di beberapa daerah di Jawa Barat dilaporkan terjadi  serangan ulat grayak pada padi mengakibatkan puso di daerah Bekasi dan jagung di daerah Bogor, sedangkan di daerah Kuningan, Tasikmalaya, dan Subang, serangannya relatif ringan. Tahun 1987, 2006, 2007 di provinsi Banten, tahun 1990 di Kuningan dan Tasikmalaya dan masih banyak daerah yang melaporkan tanaman padi terserang ulat grayak, diantaranya : Nusa Tenggara Barat (2010), Wonogiri (2010), Indramayu (2009), Baritokuala (2009), dan lain-lain.

Terjadinya serangan di beberapa daerah tersebut secara tiba-tiba tanpa diketahui populasi awal. Hal tersebut akibat tingkat pengetahuan tentang ulat grayak pada padi masih sangat terbatas, baik itu tentang bioekologi, habitat, perilaku, siklus hidup dan factor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya, sehingga tidak tidak diketahui waktu yang tepat dalam upaya pengendaliannya.

.

.

.

.

 

 

 

serangan grayak

Data pengamatan di analisis dengan statistik multivariat factorial. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap perkembangan ulat grayak adalah pengairan petak, keadaan lingkungan, kontur, sistem pengairan. Faktor – faktor tersebut  berkorelasi positif, berarti semakin tinggi skor dari masing-masing faktor, semakin tinggi pengaruhnya terhadap perkembangan ulat grayak. Faktor-faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap perkembangan ulat grayak adalah keadaan perairan petak yang kering, keadaan lingkungan yang kompleks, cucurah dan tadah hujan.

Ulat grayak yang menyerang tanaman padi di daerah kajian adalah Spodoptera exempta dan Spodoptera mauritia. Populasi ulat grayak tertinggi ditemukan pada padi fase generatif (pembentukan malai dan masak susu) dengan kondisi larva pada kondisi instar tua dan pra pupa. Vegetasi yang diduga menjadi inang perantara adalah jenis rumput-rumputan.

.

.

 

 

Laporan akhir pengembangan teknologi pengamatan Identifikasi faktor – faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan ulat grayak pada tanaman padidapat didownload disini!

catatan :permintaan password dengan mengirimkan email ke

bbpopt@gmail.com cc kanggoa@yahoo.com

dengan mencantumkan nama, instansi dan keperluan dokumen

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGEMBANGAN PEMANFAATAN CORYNEBACTERIUM UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT UTAMA TANAMAN PADI SKALA LUAS

0

Usaha peningkatan produksi selalu menghadapi kendala, salah satunya adalah penyakit. Penyakit utama tanaman padi, diantaranya hawar daun bakteri (Xanthomonas campestris pv. oryzae), Blas (Pyricularia grisea), penyakit bercak bergaris (Cercospora oryzae) dan busuk pelepah (Sarocladium oryzae), hingga saat ini masih menjadi kendala utama. Sulitnya mendapatkan fungisida maupun bakterisida yang efektif dan aman, menyebabkan usaha pengendalian yang selama ini dilakukan selalu gagal dan menambah kerugian bagi petani.

 

Potensi penggunaan agens antagonis untuk mengendalikan penyakit padi sebenarnya cukup baik. Sudah banyak penelitian dan kajian yang melaporkan keberhasilan penggunaan agens antagonis dari golongan cendawan maupun bakteri. Langkah ini harus diteruskan dengan melakukan berbagai acara untuk mensosialisasikan teknologi ini hingga sampai ke tingkat petani.

 

Balai Besar Peramalan OPT Jatisari, sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, selalu melakukan kajian dalam pengembangan teknologi pengendalian OPT dengan menggunakan agens antagonis. Salah satu agens antagonis hasil eksplorasi BBPOPT adalah bakteri Corynebacterium. Telah banyak kajian yang membuktikan efektifitas Corynebacterium terhadap berbagai macam penyakit pangan dan hortikultura, diantaranya penyakit BLB dan Blas pada padi, layu bakteri pada pisang, layu bakteri pada kacang tanah dan Phytophthora sp. pada kentang.

 

Hasil kajian lapang tingkat petakan yang dilakukan pada tahun 2010, telah membuktikan bahwa Corynebacterium mampu menghambat perkembangan penyakit BLB, blas dan bercak bergaris pada padi, namun ditingkat skala yang lebih luas belum pernah dilakukan. Oleh sebab itu dipandang perlu untuk melakukan kajian efektifitas Corynebacterium terhadap penyakit utama tanaman padi dalam skala yang lebih luas.

 

Berdasarkan hal tersebut di atas, perlu kiranya dilakukan kegiatan pengembangan pemanfaatan Corynebacterium dan sosialisasi teknologi pengendalian penyakit utama tanaman padi skala luas, yang dalam pelaksanaannya langsung melibatkan petani, dengan harapan petani mampu menerapkan, bahkan mengadopsi teknologi tersebut sekaligus dapat menjadi contoh bagi petani yang lain.

1.1      Tujuan

Kegiatan Pengembangan Pemanfaatan Agens Antagonis Corynebacterium Untuk Pengendalian Penyakit Utama Tanaman Padi Skala Luas bertujuan memanfaatkan Corynebacterium untuk pengendalian penyakit utama tanaman padi skala luas.

1.2      Sasaran

  1. 1.Terlaksananya pengendalian penyakit utama tanaman padi dengan Corynebacterium skala luas.
  2. 2.Diketahuinya faktor sosial ekonomi petani yang berpengaruh terhadap penerapan teknologi pengendalian dengan Corynebacterium.

 

 

 

1.3      Masukan (Input)

  1. 1.Data dan informasi tentang potensi wilayah dan serangan penyakit busuk pelepah.
  2. 2.Bahan dan alat pelaksanaan kegiatan lapang.
  3. 3.Data dan Informasi hasil penelitian dan kajian.
  4. 4.Dana DIPA Tahun 2011.

PENGEMBANGAN SIMULASI MODEL PERAMALAN PENYAKIT BLB PADA TANAMAN PADI

0

blbdpnDalam upaya memenuhi kebutuhan pangan yang semakin meningkat dan menunjang program pemerintah untuk meningkatkan produksi pangan nasional, maka upaya peningkatan produksi pangan (khususnya padi) harus dilaksanakan secara intensif dan terpadu.